Lamaran

Oleh : Rifan Nazhif

Saya duduk di dalam bilik seolah menunggu keputusan hakim. Angin sisa hujan yang menerabas jendela, tak bisa memberikan kesejukan. Hanya panas membakar dada. Seandainya  tiga orang di luar itu penuh tawa, tidak pula saya risau. Tapi yang terdengar menyelinap dari sela pintu hanya dengus, lenguh dan kecipak mulut yang sesekali meludahkan sesuatu. Haruskah saya terus-menerus menghitung kancing baju untuk menebak apakah mereka akan mengiyakan atau menidakkan?

Saya sudah mengalami ini beberapa kali. Mengenal lelaki, lalu melupakannya! Sementara usia selalu tidak berkompromi untuk sekadar kata menunggu. Waktu terlalu tajam menyilet lembar demi lembar almanak.

Lima tahun lalu saya mengenal Rhinos. Wajah lelaki itu memang tidak setampan namanya. Tapi hatinya melebihi ketulusan nama itu. Bagaimana dengan kedua orangtua saya? Ya, jelas saja mereka tidak mau menerima. Bagaimana mungkin seorang perempuan cantik berkulit mulus akan menikah dengan lelaki yang memiliki wajah terjal dan badan arang? Akhirnya, kau tahu, kami pun berpisah.

Dua tahun saya membenahi hati yang rawan. Kemudian hadir lelaki tampan berkulit cemerlang. Namanya Lukas. Saya yakin jika kedua orang tua saya akan mengangguk pasti, dan selekasnya mengatur rencana penikahan. Tapi bagaimanapun, empedu  masih harus saya telan. Ayah-ibu  sama sekali tidak mempermasalahkan tampilan Lukas, juga harta-benda yang dia miliki. Hanya satu; kami tidak seiman. Bila saya bersikuhuh bersama Lukas, apakah saya sanggup berpisah dengan orangtua? Kalau sekadar diusir dari rumah, dan harus menjadi perempuan sebatang kara, saya masih sanggup menyewa rumah dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tapi bagaimana dengan cinta? Saya sangat tidak bisa melekang kasih seorang anak perempuan dengan orangtuanya. Saya masih amat sangat ingin menyadap kasih-sayang mereka hingga tubuh berkalang-tanah.

Dan sekarang, apalagi? Daud, lelaki yang duduk bersama orang tua saya, akankah bernasib sama? Seolah mereka sedang melakukan konferensi meja bundar. Begitu dingin. Genting! Daud tampan, kami seiman. Tapi kenapa keputusan orang tua saya sangat lambat menjadi sebuah bunyi; iya, kami bersedia menyerahkan anak perempuan kami kepadamu, Daud! Hanya dengan kalimat semudah itu, ayah dan ibu tak sanggup mengeluarkannya? Atau lebih singkat lagi; iya!

Saya menggigil. Bukan oleh dingin yang dihantar jendela yang terbuka. Begitupun, saya gegas menutup daun jendela rapat-rapat, mematikan lampu dan merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Lelah rasanya gundah menyadap badan. Kemudian senyap, seiring pintu depan ditutup membanting. Saya pura-pura meringkuk ketika pintu berderit, dan tangan cahaya menjangkau dari sela daun pintu.

“Sudah tidur, Mariam?” Lembut suara itu. Apakah kelembutan suaranya menandakan hatinya juga lembut menerima Daud? Saya duduk di bibir tempat tidur saat lampu dinyalakan. Ibu duduk di sebelah saya. Dia mengelus rambut saya. Matanya memberitahu, dia menyukai Daud. Hanya sekejap, kemudian luruh, redup. Dia tertunduk. Suara mendehem di luar menandakan ada seorang yang tak senang. Ayah mungkin tak menyukai Daud.

“Ayah  tak menyukai Daud, Bu?” tanya saya. Dia semakin tertunduk. “Karena apa?”

“Ayahmu memang sudah menolak halus niatnya. Ayah tak suka karena dia datang bersenjatakan badan sebatang.”

“Lho, dia kan membawa martabak sayur kesukaan ayah!” Pintu dibanting. Ayah marah. Sayup terdengar dia menggeber motor. Selalu begitu tabiatnya. Bila ada yang mengganjal hati, dia langsung minggat.

“Maksud ibu, Daud datang hanya naik angkot. Bukan minimal mengandarai motor, apalagi mobil. Ibu sebenarnya senang kepadanya. Anaknya sopan. Tapi, kau tahu sendirilah sifat ayahmu.”

* * *

Saya bertemu Daud di depan sebuah Bank. Dia terlihat cerah. Tanpa sedikit pun canggung, dia menemui saya. Tatapnya sama sekali tak menyimpan kebencian. Tak pula pula menujukkan kekalahan. Daud memang orang yang tegar. Saat kami masih kuliah, hanya dia  mahasiswa yang tak memiliki tongkrongan. Sepeda sekali pun. Dia menjalani hari-hari mengandalkan jasa angkutan kota. Bahkan sekali dua saya memergokinya berjalan dari kampus menuju rumah kosan atau sebaliknya. Katanya biar sehat, biar hemat. “Yang penting saya tak mengganggu orang!” Begitulah dia selalu mengakhiri perbincangan pada setiap protes yang saya lontarkan. Dan itulah yang membuat saya senang kepadanya. Membuat saya, setelah menjadi sarjana dan pekerja kantoran selama sepuluh tahun, akhirnya menerima cintanya.

“Kau tak marah pasal tadi malam, Daud?” Saya mengaduk es campur di hadapan saya agar seisi gelas kalis.

“Pasal ayahmu marah karena aku tak punya tongkrongan?” Dia tertawa. Gigi  gingsulnya menyembul, membuat ketampanannya semakin kentara. Kasihan sekali, seharusnya dia dapat menggaet perempuan lain yang  melebihi saya dalam segala hal. Tapi siapa yang mau? Dari dulu dia sudah berjuang mendapatkan pacar, bahkan dibantu dorongan dari saya. Nyatanya semua perempuan itu hanya memikirkan tongkrongan. Apalagi kemudian mereka tahu, Daud orang udik. Tinggal di kosan paling miris, di pinggiran sungai kecil yang membelah kota. Ketika kemarau, udara di seputaran situ bau  busuk alang-kepalang karena tumpukan beragam sampah. Ketika penghujan, banjir akan menyeruduk ke dalam kamar kosan, hingga terkadang seluruh barangnya basah dan lama-lama bau apek.

“Kau tak sakit hati?”

“Untuk apa sakit hati. Aku yakin kau tak ingin menikahi dengan tongkrongan, misal, motor. Apa ayahmu mau anak gadisnya menikah dengan motor? Harus dengan manusia seperti aku, kan? Maskudku setampan ini.” Dia berkelit menghindari  cubitan saya.

Saya berharap dia kembali bersemangat menaklukkan ayah. Dan ternyata harapan saya berbalas. Selepas maghrib dia  sudah hadir di teras rumah. Kali ini dia memaksa saya agar sama-sama menghadapi ayah. Kalau menghadapi ayah sendirian, dia masih kurang percaya diri. Bila bersama saya, tentu saja kami akan menang. Dua melawan satu orang. “Seperti mau main gulat saja,” sindir saya. Wajahnya berubah sedikit tegang. Tapi kembali lentur. Ayah duduk di seberang kami. Ibu sengaja menyibukkan diri di dapur. Mungkin dia berharap, ayah akan kalah telak bila menghadapi saya dan Daud, sendirian.

“Kau masih berani mau melamar anakku? Motor saja tak bisa kau beli, apalagi mau membeli anakku!”

“Ayah!” jerit saya tertahan. Ayah membuang pandang.

“Mariam tak akan Ayah kawinkan dengan motor, kan? Nanti anak yang lahir malahan sepeda,” seloroh Daud. Ayah masih ingin marah. Tapi dia mudah tertawa. Dia pura-pura batuk. “Meskipun saya tak memiliki motor, tapi saya masih sanggup membiaya seluruh biaya pernikahan kami. Asal pestanya jangan terlalu meriah.”

Saya menatap wajah Daud. Apakah dia serius dengan perkataannya? Beberapa hari lalu, kami malahan sepakat  akan sama-sama membiayai seluruh acara pernikahan kami. Saya tahu uangnya tak cukup banyak. Dia sama seperti saya, pekerja kantoran alias kuli kantor.

“Berapa modal yang kau punya?” Tatap ayah menusuk mata Daud.

“Saya ada uang dua puluh juta, Yah!”

Ayah tertawa. “Dua puluh juta dapat apa?”

“Sudah dapat banyak, Yah. Asal tidak terlalu mewah saat pesta pernikahan. Untuk apa bermewah-mewah pesta, apalagi kalau sampai harus berhutang, kalau ke depannya tak hanya kami yang susah, juga Ayah dan Ibu. Tujuan menikah itu jangka panjang. Saya  tak ingin membuat Mariam melarat. Ayah dan Ibu juga pasti tak ingin dia melarat. Maaf, saya seperti menggurui Ayah.”

Ayah terdiam. Dia tak banyak berbicara lagi. Tak pula dia menerima lamaran Daud. Hingga besok harinya, dia hanya membisu ketika Daud mengajak kami sekeluarga jalan-jalan. Tentu saja naik angkutan kota. Ayah berkali-kali menunjukkan bahwa dia sangat gerah dan risih.

“Eh, aku mau tanya. Kau ada uang dua puluh juta, darimana?” bisik  saya. Daud tersenyum. “Bukannya menjawab, eh…malahan senyum.”

Dia tetap tak menjawab, hingga saya, ayah dan ibu dibuatnya terkejut. Daud mengajak kami ke sebuah komplek perurmahan. Buat apa? Apa dia mau mengenalkan kami dengan ayah-ibunya.

Kami berhenti di depan sebuah rumah.

“Untuk apa kau ajak kami ke mari?” geram ayah.

“Untuk menunjukkan bahwa saya tak akan memenuhi kebutuhan hidup  Mariam setengah-setengah. Meskipun masih lima tahun lagi lunas, rumah ini adalah bakal milik kami berdua. Itu pun kalau Ayah dan Ibu menerima lamaran saya. Nanti kalau semua sudah oke, saya akan melamar Mariam secara resmi bersama ayah, ibu dan kerabat saya.”

Ayah langsung terdiam. Ibu juga membisu. Tapi mata ibu semringah. Saat kami singgah di warung martabak sayur, ayah terus-terang menerima lamaran Daud. Bukan lantaran dia mata duitan. Yang terpenting dia tak ingin kelak saya terlantar. “Tak punya motor pun tak apa-apalah,” kata ayah sambil menyuapkan sepotong martabak sayur ke mulutnya. Saya melihat ayah begitu bahagia.

Saat ayah dan ibu asyik makan, saya minta ditemani Daud ke toilet. “Aku curiga, kau dapat darimana uang begitu banyak, hingga bisa beli rumah segala?”

“Yang pasti bukan maling atau korupsi. Sejak SMP saya mulai menabung. Saya berhemat, kendati sering terpikir ingin punya kendaraan. Saya juga ada kerja sambilan, menulis di beberapa media massa cetak. Tentang apa saja. Jadi, sudah jauh-jauh hari saya merencanakan masa depan.”

“Ah, kau pintar sekali,” puji saya.

“Tak pintar-pintar amat. Aku banyak belajar dari buku. Dan sekarang lebih mudah lagi. Cek aja di internet, banyak kok laman yang bisa membantu kita mengelola keuangan.” Dia memeluk pinggang saya. Tapi buru-buru saya menepis tangannya. “O, iya, lupa. Kita belum menikah, ya!”

—sekian—

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com